Friday, June 10, 2011

Biografi dan Pemikiran Bung Hatta

Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Hatta merintis karier sebagai aktivis organisasi sejak berusia 15 tahun. Sejak tahun 1916 Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond dan menjabat sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond. Disinilah muncul karakter kuat Hatta sebagai orang yang disiplin dan bertanggungjawab serta awal mula lahirnya bibit-bibit pemikiran tentang perekonomian dalam diri Hatta. Pada tahun 1921, Hatta belajar di Handels Hoge School di Rotterdam, Belanda. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta menjadi Ketua PI secara berturut-turut pada tahun 1926 sampai tahun 1930. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan strategi politik Indonesia. Sehingga PI  menduduki barisan terdepan pada pergerakan nasional yang berada di Eropa. Hal, ini juga diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) .

Hatta merupakan seorang pemikir yang ulung dalam situasi apapun. Ketika terjadi penahanan soekarno oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores,  Hatta membuat sebuah buku dengan judul "Soekarno Ditahan" (10 Agustus 1933), buku tersebut merupakan buah pikiran Hatta seutuhnya. Pemikiran Hatta yang lain dituangkan dalam bukunya antara lain  "Tragedi Soekarno" (30 Nopember 1933), dan "Sikap Pemimpin" (10 Desember 1933). Demikian pula ketika beliau (Hatta) masih  berstatus sebagai tahanan,beliau masih masih merasa bertanggungjawab dengan keadaan bangsa dan Negara Indonesia sehingga ia menghabiskan waktu dengan menulis  sebuah buku tentang perekonomian yang berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.
Dalam  masa pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, "Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan" dan "Alam Pikiran Yunani". Buku Alam Pikiran Yunani kemudian menjadi mas kawin pada pernikahannya dengan Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah.
Sejak awal 1930-an Hatta menawarkan gagasan tentang demokrasi untuk Indonesia merdeka, yang berdasarkan asas kebersamaan, yaitu prinsip hidup bersama warisan nenek moyang bangsa Indonesia sejak berabad-abad lalu. Kebersamaan dalam kehidupan politik bertari mengutamakan praktik musyawarah untuk mufakat, sedangkan kebersamaan dalam ekonomi berarti pengembangan koperasi untuk memperkuat sektor ekonomi kerakyatan. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka pada masa pemerintahan Jepang. Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.


Setelah Indonesia meredeka dan memiliki pemerintahan sendiri, Bung Hatta tetap aktif menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi meskipun pada saat itu hatta menjabat sebagai Wakil Presiden,. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Oleh karena jasanya dibidang koperasi, beliau dinobatkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Walaupun Hatta menjabat sebagai wakil presiden, kan tetapi pemikirannya kerapkali bertentangan dengan presiden.
Soekarno berpikiran untuk melanjutkan perjuangan revolusi-nya, sedangkan Hatta berfikiran lain dengan lebih menginginkan untuk segera menghentikan revolusi dan mulai membangun manusia ke arah yang lebih maju atau seutuhnya. Soekarno terinspirasi dengan ide-ide mengenai suatu negara yang dipimpin oleh penguasa tunggal berbeda dengan Hatta yang menilai suatu negara itu baik apabila bersifat liberal.
Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.
Pemikiran Hatta yang paling mutakhir yaitu mengenai ide mengenai lahirnya negara republik yang bersendikan pemerintahan rakyat melalui wakil-wakil rakyat atau badan-badan perwakilan.
            Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.
Bung Hatta dipandang oleh kebanyakan  sebagai peletak dasar konsep keindonesiaan yang lebih mendalam, yaitu konsep keadilan, keterbukaan dan demokrasi (Nurcolish Madjid)

0 comments:

Post a Comment

Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More